Pernikahan Sayyid Abdulloh Dengan Sayyidah Aminah

Pernikahan Sayyid Abdulloh Dengan Sayyidah Aminah

PERNIKAHAN ABDUL MUTHALIB

Dalam banyak literatur dijelaskan, pernikahan kakek-kakek Nabi hingga ayahnya sudah mendapat petunjuk langsung dari Allah SWT. Sebab, ada saja peristiwa-peristiwa aneh terjadi menjelang pernikahannya. Penulis akan jelaskan singkat kisah ‘isyarat langit’ sebelum Abdul Muthalib (kakek Nabi) dan Abdullah (ayah Nabi) sebelum menikah.

Dikisahkan, di suatu malam Abdul Mutahlib tidur di kamarnya. Begitu bangun, ia kaget karena melihat wajahnya tampak lebih tampan dan berwibawa dari sebelumnya. Ia sampai bingung dan bertanya-tanya siapa yang melakukan ini. Akhirnya, ia dibawa ayahnya ke beberapa dukun Quraisy. Perlu diketahui, sudah menjadi tradisi bangsa Arab jahiliah ketika ada perkara ganjil, maka akan dikonsultasikan ke seorang dukun sebagai orang yang memiliki kemampuan khusus.

Semua dukun yang didatangi itu berkata bahwa ini merupakan pertanda Abdul Muthalib sudah waktunya untuk dinikahkan. Akhirnya, ia pun menikah dengan seorang perempuan bernama Qilah dan memiliki putra bernama Harits. Tidak lama kemudian, istrinya meninggal dan menikah lagi dengan Hindun binti ‘Amr.

Menurut Al-Qastalani, peristiwa ganjil yang dialami Abdul Muthalib disebabkan karena nur Muhammad masuk ke dalam diri Abdullah. Sejak saat itu badannya bau minyak misik. Bahkan ketika orang Quraisy sedang dilanda paceklik, mereka akan meminta bantuan Abdul Muthalib untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Dengan keberkahan nur Muhammad, hujan pun turun dengan begitu derasnya. (Ahmad bin Muhammad al-Qastalani, juz I, h. 97-98).

PERNIKAHAN ABDULLAH DENGAN AMINAH

Dengan mengutip riwayat Ibnu Ishaq, Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah mengisahkan, sekali waktu Abdul Mutalib pergi bersama Abdullah untuk bertemu Wahab bin Abdu Manaf, ayah Siti Aminah. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang perempuan bernama Ummu Qannal, saudara perempuan Waraqah bin Naufal. Ada yang mengatakan namanya Qutailah, ada pula yang menyebut namanya Fathimah binti Murrin al-Khtas’amiyah.

Rupanya dia bukan perempuan sembarangan, melainkan pandai membaca kitab suci sebagaimana Waraqah bin Naufal. Ia mengetahui ada nur nubuwah (cahaya kenabian) dalam diri Abdullah. Lantas, ia pun menawarkan Abdullah untuk tidur dengannya dan menjanjikan padanya imbalan seratus ekor unta. Namun, Abdullah menolak permintaan itu dengan tegas karena jelas itu perbuatan tidak terhormat.

Ummu Qannal tahu jika ia berhubungan badan dengan Abdullah, maka nur nubuwah akan berpindah ke tubuhnya.

Abdullah pun melanjutkan perjalanan bersama ayahnya, Abdul Muthalib, hingga bertemu dengan calon mertuanya, Wahab bin Abdu Manaf. Ringkas kisah, Abdullah menikah dengan Aminah, seorang perempuan sangat terhormat di tengah-tengah kaumnya saat itu. Sejak berhubungan dengan Aminah, nur nubuwah yang ada pada diri Abdullah berpindah ke istrinya yang kemudian terlahir sebagai sang baginda Nabi Muhammad ﷺ. (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wan Nihâyah, [Giza: Dar Hajar, 1997], juz III, h. 348-349).

Demikianlah penjelasan singkat kesucian nasab Nabi Muhammad ﷺ. Pembaca bisa lebih mendalaminya lebih detail lagi dalam kitab-kitab sejarah seperti Mawâhibul Laddûniyah karya Ahmad al-Qastalani, Al-Bidâyah wan Nihâyah karya Ibnu Katsir, Sîrah Al-Ḫalbiyah karya Nuruddin al-Halbi, dan lain sebagainya.

___



  • Komentar (0)
Maaf Tidak Ada...

Beri Komentar

Silahkan Login Terlebih dahulu. Masuk