- Depan
- Tampilkan Konten
Al-Yaqutun Nafis
Al-Yaqutun Nafis
Kitab ini dinamai “Al-Yaqut An-Nafis” (الياقوت النفيس). “Yaqut” bermakna “safir/rubi”, yakni sejenis batu mulia yang tembus pandang dan berwarna biru atau kemerahan. “Nafis” bermakna “berharga”. Jadi “Al-Yaqut An-Nafis” secara bahasa bermakna safir/rubi yang berharga.
Seakan-akan pengarang memaksudkan kandungan ilmu yang ditulis dalam kitab ini sangat berharga bagaikan batu mulia yang mahal harganya.
Nama lengkap yang diberikan pengarang adalah ““Al-Yaqut An-Nafis Fi Madzhabi Ibni Idris”. Jadi, terlihat dari namanya, kitab ini sesungguhnya ditulis untuk menerangkan mazhab fikih imam Asy-Syafi’i. Ibnu Idris yang disebut dalam judul tersebut adalah Asy-Syafi’i, karena nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.
“Al-Yaqut An-Nafis” dikarang oleh Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, seorang ulama yang lahir di Tarim Hadhromaut tahun 1312 H. Beliau dipuji sebagai seorang ulama yang cerdas, lekas faham dan kritis.
Motivasi penulisan kitab ini adalah permintaan guru pengarang, Abdullah Asy-Syathiri yang sangat dihormatinya. Tujuan penulisannya adalah untuk memudahkan para santri yang ingin memahami mazhab Asy-Syafi’i dan juga memudahkan para guru yang mengajarkannya sehingga tidak perlu mengarang “modul’ sendiri yang membutuhkan kerja keras.
Sebagai kitab fikih mazhab Asy-Syafi’i, pengarang menulis kitab ini dalam bentuk “mukhtashor”. Melihat masa hidup Ahmad Asy-Syathiri yang berada pada abad ke 14 H, bisa difahami bahwa kitab ini lahir setelah masa kematangan terakhir perkembangan mazhab Asy-Syafi’i.
Dari sini, menjadi wajar jika nilai abstraksinya sangat tinggi dan mendapatkan perhatian serius dari ulama-ulama syafiiyyah. Bisa dikatakan kitab ini meringkas tahqiq-tahqiq ulama Asy-Syafi’iyyah muta-akkhirin sehingga dijadikan sebagai salah satu referensi penting kajian fikih mazhab Asy-Syafi’i.
Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan dicerna. Tidak salah jika dikatakan “Al-Yaqut An-Nafis” adalah kitab yang berisi pembahasan fikih klasik tetapi dibahasa ulangkan dengan bahasa kontemporer.



- Komentar (0)
Maaf Tidak Ada...Beri Komentar